Menurut Sport, Victor Muñoz, yang tumbuh besar di lingkungan miskin Barcelona, kini adalah pemain Liverpool dan telah memenangkan Piala Dunia FIFA keduanya bersama tim nasional Spanyol.

Di lapangan tanah Turó de la Peira, ia akan bermain sepak bola sambil membangun gundukan pasir kecil, mulai membentuk dirinya menjadi pemain yang unik. Di lapangan itulah anak pemalu namun sangat sensitif ini tumbuh di tengah keceriaan dan tawa, selalu dikelilingi oleh teman-teman yang dikenalnya sejak taman kanak-kanak.
Orang-orang di sekitarnya mengatakan ia adalah anak yang mendengarkan, bertanya, dan menyerap setiap koreksi. Meskipun pemalu, ia selalu menatap mata pelatihnya dan selalu tampak jauh lebih dewasa dari teman-temannya.
Victor memulai di Turó, lalu pindah ke Sant Gabriel, dan dengan cepat menarik perhatian karena daya ledaknya, kemampuan menggiring bola, dan insting mencetak gol.
Titik baliknya datang ketika ia bergabung dengan akademi muda Barcelona. Ia menghabiskan empat tahun di sana, terus berkembang secara teknis dan psikologis. Pelatih mengingat tubuh bagian bawahnya yang kuat, keinginannya untuk berkembang, dan semangat kompetitifnya.
Setelah meninggalkan Barcelona, ia pergi ke Damm dan terus berkembang. Kemudian datanglah langkah yang mengubah hidup ketika Real Madrid mengajukan tawaran kepadanya. Bagi anak ini, yang telah tumbuh dengan mantap melalui kemajuan yang konsisten, itu adalah lompatan besar.

Bergabung dengan Real Madrid adalah pertama kalinya ia terpisah dari keluarganya. Mengirim Victor ke asrama adalah kejutan emosional bagi semua orang.

Ibunya teringat menangis sepanjang perjalanan kembali ke Barcelona, terus-menerus khawatir apakah ia baik-baik saja, apakah ia bisa beradaptasi, dan apakah ia akan merasa kesepian. Keluarga itu akhirnya kembali dan memeluknya erat-erat. Ia berkata, "Kami bertiga menangis." Momen itu menandai awal fase krusial, sejak saat itu, Victor harus belajar menghadapi semuanya sendiri.
Momen tersulit datang ketika ia meninggalkan akademi muda Barcelona. Ibunya mengatakan ia tidak baik-baik saja saat itu dan merasa ia tidak lagi cocok untuk sepak bola. "Bu, aku tidak tahu apakah aku harus melanjutkan," katanya suatu kali kepada ibunya. Ibunya hanya mengajukan pertanyaan sederhana: "Apakah kamu suka sepak bola?" Ketika ia menjawab "ya," ia mendorongnya untuk melanjutkan, tanpa tekanan, tanpa harapan, hanya untuk bahagia. Kata-kata inilah, dorongan emosional inilah, yang membuat Victor bertahan.

Keluarganya mengakui bahwa mereka masih merasa seperti itu semua adalah mimpi. Dalam satu musim, Victor melompat dari Primera Federación ke La Liga, dan kemudian ke Piala Dunia FIFA, yang sulit bagi mereka untuk sepenuhnya memahami.
Pada hari pengumuman skuad Piala Dunia FIFA, semua orang di keluarga gugup. Ketika namanya muncul, seluruh keluarga meledak dalam kegembiraan. Keluarganya berkata, "Anda bisa memimpikan dia bermain di Piala Dunia FIFA, tapi itu lebih seperti mimpi, bukan kenyataan." Namun kenyataan akhirnya tiba.
Kisah Victor adalah kisah seorang anak yang pernah ragu, berpikir untuk menyerah, dan merasa ia tidak cukup baik. Kini ia adalah pemain Liverpool dan telah memenangkan Piala Dunia FIFA keduanya bersama tim nasional Spanyol.
Diterjemahkan oleh AI.
Situs web AF kini hadir! Lihat berita lengkap, komentar, detail pertandingan, dan statistik di komputer Anda. Kunjungi: www.allfootballapp.com
FC Liverpool
Real Madrid
FC Barcelona
CA Osasuna
Spanien
Víctor Muñoz
FIFA World Cup
Alle Kommentare