Menjelang Piala Dunia FIFA 2026, pemain veteran tim nasional Tanjung Verde Stopira diwawancarai oleh FIFA untuk membahas karier panjangnya, pentingnya kualifikasi pertama timnya yang bersejarah untuk Piala Dunia FIFA, serta ambisi dan ekspektasi mereka di panggung dunia.

Stopira, 38, baru saja mengalami musim yang luar biasa. Pada final Piala Portugal tanggal 24 Mei 2026, ia dengan tenang mengonversi penalti krusial di waktu tambahan, membantu klub Portugal divisi dua Torreense mengalahkan tim kuat Sporting CP dalam kemenangan mengejutkan. Momen ini menjadi salah satu sorotan utama dalam karier klubnya.

Di level tim nasional, Stopira juga mencapai tonggak sejarah. Pada Oktober 2025, dalam pertandingan kualifikasi penting Piala Dunia FIFA untuk Tanjung Verde, ia masuk sebagai pemain pengganti dan mencetak gol, membantu tim meraih kemenangan 3-0 atas Eswatini. Dengan kemenangan tersebut, Tanjung Verde secara historis mengamankan tempat di Piala Dunia FIFA 2026—pertama kalinya dalam sejarah sepak bola negara itu lolos ke putaran final Piala Dunia FIFA.

Stopira mengatakan bahwa semuanya masih terasa sedikit tidak nyata: "Berpartisipasi dalam Piala Dunia FIFA adalah sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan akan terjadi secepat ini. Dulu orang-orang kami harus memilih tim mana yang akan didukung saat Piala Dunia FIFA dimulai, tetapi sekarang mereka akhirnya bisa mendukung negara mereka sendiri."

Asal Usul Sepak Bola Jalanan: Kisah di Balik Nama Ini

Kisah Stopira tidak hanya tentang sepak bola, tetapi juga memiliki akar kuat dari masa tumbuh besar di jalanan. Nama aslinya adalah Ianique dos Santos Tavares, dan nama "Stopira" berasal dari masa remajanya.

Ketika ia masih kecil bermain sepak bola di jalanan Tanjung Verde, teknik kaki kirinya yang luar biasa membuat tetangga membandingkannya dengan penyerang Prancis Yannick Stopyra. Penyerang ini membantu Prancis mencapai semifinal Piala Dunia FIFA 1986, dan menjadi inspirasi untuk julukannya.

Karena "Ianique" terdengar mirip dengan "Yannick," dan Stopira juga pemain berkaki kiri, seorang tetangga mulai memanggilnya "Stopira." Nama itu secara bertahap menyebar dan akhirnya menjadi nama resmi di jerseynya dalam karier profesionalnya.

Stopira mengenang: "Ketika saya kecil, saya bermain dengan teman-teman di lingkungan sekitar. Seorang tetangga yang lebih tua berpikir julukan ini cocok untuk saya karena saya juga pemain berkaki kiri. Nama itu melekat, dan sekarang saya bahkan mencetaknya di jersey saya."

Karier profesional Stopira mencakup berbagai negara dan liga. Ia memulai di Sporting Praia, klub ibu kota Tanjung Verde, kemudian pindah ke Portugal untuk bergabung dengan Santa Clara.

Pada tahun 2010, ia bergabung dengan tim B Deportivo La Coruña dan kemudian dipinjamkan ke Paços de Ferreira, tempat ia membuat debutnya di Primeira Liga. Selanjutnya, ia bermain untuk Videoton FC di Hongaria selama 11 tahun sebagai bek kiri utama yang stabil.

Pada tahun 2024, ia bergabung dengan Torreense dan terus bersaing di sepak bola profesional hingga mencapai momen mengejutkan memenangkan Piala Portugal pada tahun 2026.

Meskipun lama dianggap sebagai "pemain biasa," Stopira selalu mempertahankan semangat juang yang kuat. Lintasan kariernya menunjukkan ketekunan dan ketahanan.

Tanjung Verde berhasil lolos ke Piala Dunia FIFA 2026 sebagai salah satu pendatang baru, bersama Curaçao, Uzbekistan, dan Yordania.

Stopira mengakui bahwa ini adalah terobosan bersejarah bagi seluruh bangsa: "Sejak saya kecil, saya bermimpi Tanjung Verde bisa berpartisipasi di Piala Dunia FIFA. Saya akan menonton pertandingan Brasil, Portugal, dan tim-tim Afrika, lalu membayangkan apakah kami juga bisa melakukannya."

Ia juga menekankan bahwa pencapaian ini adalah milik semua orang yang telah berjuang untuk tim nasional: "Ini bukan hanya penghargaan generasi pemain kami. Setiap orang yang pernah mengenakan seragam tim nasional, dan mereka yang tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengenakannya, telah membantu kami mencapai posisi kami saat ini."

Di babak penyisihan grup Piala Dunia FIFA, Tanjung Verde akan menghadapi Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi—grup yang secara luas dianggap sebagai "grup maut."

Namun Stopira tidak gentar. Sebaliknya, ia menunjukkan optimisme dan kepercayaan diri, yakin tim memiliki kemampuan untuk menciptakan kejutan.

Ia berkata: "Kami memiliki potensi dan kemampuan individu. Kami juga tim yang bersatu dan sepenuhnya mampu mencapai hasil yang baik serta menciptakan kejutan dalam pertandingan kami."

Ia menambahkan bahwa kekuatan terbesar tim adalah kekompakannya: "Kami memiliki banyak bakat individu dan merupakan tim yang sangat bersatu. Saya sangat gembira dan menantikannya. Saya harap tim kami dapat membawa beberapa kejutan bagi negara, karena ini akan menjadi momen unik dalam sejarah negara kami."

Diterjemahkan oleh AI.