Menurut Marca, setelah kemenangan Brasil di menit-menit akhir yang menyingkirkan Jepang, Ancelotti mendekati Moriyasu untuk bersalaman dan berpelukan.

Ancelotti telah membuktikan satu hal sepanjang karier kepelatihannya: rasa hormat adalah prinsip yang tidak pernah ia kompromikan. Ketika ditanya tentang tekanan babak gugur Piala Dunia FIFA sebelum pertandingan, pelatih asal Italia itu menjawab, "Kami hanya akan memainkan pertandingan sepak bola, tidak lebih." Dan hanya beberapa detik setelah Brasil memastikan lolos dengan gol di menit-menit akhir, ia sekali lagi membuktikan bahwa ini bukan hanya omong kosong. Sepak bola hanyalah sepak bola, tetapi didikan dan rasa hormat selalu didahulukan.
Saat para pemain Brasil merayakan di lapangan dan tribun bersorak, Ancelotti berjalan seperti biasa. Ia tidak melakukan gerakan kegembiraan, tidak berlari, dan tidak ada perayaan yang mencolok. Ia berjalan melintasi lapangan untuk mencari pelatih kepala Jepang, Moriyasu, menjabat tangannya, dan memeluknya di dekat area teknis tim Jepang. Adegan ini mendapat pujian luas dan sekali lagi menunjukkan pemahaman "Ancelotti" tentang sepak bola.
Ketenangan Ancelotti setelah kualifikasi yang begitu sulit inilah yang telah ia coba sampaikan kepada tim sejak melatih Brasil. Dalam pertandingan ini, Brasil membutuhkan waktu lebih dari 90 menit untuk menembus pertahanan Jepang, dan Ancelotti tidak pernah kehilangan ketenangannya, begitu juga timnya. Setelah pertandingan, Gabriel-Magalhães menjelaskan, "Pelatih selalu berusaha menyampaikan ketenangan kepada kami. Saat jeda, kami berbicara tentang tetap tenang. Kami tahu itu adalah pertandingan yang sangat panjang. Anda melihat apa yang terjadi kemudian: kami selalu percaya dan akhirnya memenangkan pertandingan."
Diterjemahkan oleh AI.
Situs web AF kini hadir! Lihat berita lengkap, komentar, detail pertandingan, dan statistik di komputer Anda. Kunjungi: www.allfootballapp.com
Brasil
Jepang
Carlo Ancelotti
Hajime Moriyasu
FIFA World Cup
Semua Komentar