Nico Williams baru-baru ini berbicara dalam sebuah wawancara mengenai pengorbanan besar yang dilakukan orang tuanya untuk keluarga mereka, mengakui bahwa ia akan selalu berterima kasih atas keputusan mereka untuk mengambil risiko berimigrasi.

Asist krusial Nico Williams kepada Ferran Torres di final Piala Dunia, yang membantu Spanyol mengalahkan Argentina, akan dikenang untuk waktu yang lama. Namun, penyerang Athletic Bilbao itu bukanlah starter mutlak di Piala Dunia tersebut, setelah mengalami cedera dalam pertandingan sulit melawan Uruguay, tetapi ia akhirnya mengatasi kesulitan tersebut. Nico yang berusia 24 tahun saat ini berada dalam performa terbaik dalam kariernya, dan tahun lalu ia memperbarui kontraknya dengan Athletic Bilbao, satu-satunya klub tempat ia bermain sepanjang kariernya. Meskipun demikian, salah satu kualitasnya yang paling dipuji adalah dedikasinya kepada keluarganya.

Keluarga Williams memiliki kisah yang penuh pengorbanan besar, yang tidak pernah dilupakan oleh Nico (kakak laki-lakinya adalah Iñaki). Orang tuanya, María dan Félix, meninggalkan Ghana pada tahun 1994, berharap menemukan masa depan yang lebih cerah bagi keluarga mereka. Perjalanan itu berat, dan ibunya sedang hamil anak pertama mereka, Iñaki, selama perjalanan. Setelah melakukan perjalanan melalui beberapa negara, mereka akhirnya menetap di Spanyol dan memulai hidup baru dari awal.

Nico telah menceritakan dalam beberapa wawancara pengalaman paling sulit dari "perjalanan" orang tuanya. Ia mengungkapkan bahwa ibunya menanggung kondisi ekstrem selama perjalanan imigrasi, bahkan melintasi gurun tanpa alas kaki. Kenangan ini tetap terukir dalam hati keluarganya, mencerminkan kesulitan besar yang pernah mereka hadapi. Pengorbanan ayahnya juga sama pentingnya. Untuk menopang keluarga, ayahnya sering bekerja jauh dari rumah untuk waktu yang lama, bahkan di London, semata-mata untuk memastikan keluarganya memiliki makanan dan kehidupan yang stabil. Pengorbanan ini meninggalkan jejak mendalam pada Nico, dan ia mengakui rasa terima kasihnya atas semua yang telah dilakukan orang tuanya untuknya dan kakaknya.

Beberapa tahun pertama di Spanyol juga sulit. Keluarga itu menghadapi kesulitan keuangan yang parah, berjuang untuk bertahan hidup di tengah banyak kekurangan. "Orang tua saya mempertaruhkan hidup mereka untuk memberi saya dan kakak saya masa depan yang lebih baik. Mereka berhasil. Saya akan selalu berterima kasih atas semua yang telah mereka lakukan untuk kami. Mereka adalah pejuang yang mengajari kami setiap hari tentang rasa hormat dan kerja keras, dan bahwa tidak ada yang didapatkan secara gratis," pungkas Nico.

Ikatan erat antara saudara-saudara itu semakin mendalam dalam keadaan ini. Perbedaan usia membuat Iñaki menjadi pendukung kuat adiknya, ikatan yang terus berlanjut di dalam dan di luar lapangan, dan keduanya menganggapnya sebagai salah satu kekuatan terbesar mereka.

Dalam wawancara di program "Salvados," Nico juga mengenang masa-masa sulit itu: "Air dan listrik diputus karena kami tidak bisa membayar tagihan, itu benar-benar tidak mudah," akunya.

Kemudian, Nico memiliki kesempatan untuk melakukan perjalanan ke Afrika, sebuah pengalaman yang memberinya pemahaman lebih dalam tentang realitas banyak orang dan membuatnya semakin menghargai pengorbanan orang tuanya. Ia mengakui bahwa perjalanan itu membuatnya merenungkan bagaimana hidupnya seandainya keluarganya tidak memilih untuk berimigrasi. "Saya pernah ke Afrika, dan saya menyadari bagaimana hidup saya seandainya saya tidak dilahirkan di sini," kata Nico.

Diterjemahkan oleh AI.

Situs web AF kini hadir! Lihat berita lengkap, komentar, detail pertandingan, dan statistik di komputer Anda. Kunjungi: www.allfootballapp.com