Nama Yan Diomande melejit dalam sekejap. Pemain yang dulu harus mencuri kentang dan jagung itu kini hendak 'mencuri' panggung bersama Real Madrid.

Tak perlu bingung kalau merasa nama Diomande tiba-tiba muncul dari ketiadaan dan langsung jadi buah bibir. Pemain 19 tahun itu memang baru benar-benar semusim menunjukkan sinarnya.

Ia baru teken kontrak profesional bersama klub Spanyol Leganes pada musim 2024/2025. Semusim kemudian dibeli tim Jerman RB Leipzig seharga 20 juta Euro dan di sinilah ia berpendar lebih terang.

Pemain kelahiran Pantai Gading itu mencetak 12 gol dan delapan asis dari 12 penampilan di Bundesliga musim 2025/2026 itu. Catatan ini membawanya langsung meraih gelar Rookie of The Year.

Diomande kini menatap perpindahan lainnya, dengan Real Madrid kabarnya sudah mengunci kesepakatan transfer. Raksasa Spanyol itu akan menebusnya dengan harga lebih dari 100 juta Euro dan akan menjadikannya salah satu pemain muda termahal di dunia.

Perubahan nasib yang drastis ini niscaya tak disangka-sangka oleh Diomande sendiri sekalipun. Ini mengingat ia pernah kesulitan mendapatkan klub setelah merantau sendirian ke Amerika Serikat untuk gabung akademi DME.

Uji coba di Chelsea, Rangers, Olympiakos, dan Crystal Palace dilakoninya tanpa hasil. Dalam curhatnya dengan The Players Tribune, Diomande juga sempat menceritakan bagaimana tim-tim B di Major League Soccer (MLS) Amerika tak menginginkannya.

Ia pun kembali ke Afrika dengan kecewa, sampai beberapa pekan kemudian takdir membawanya ke Leganes dan dari sana cerita hidupnya berubah. Anak dari keluarga sederhana, yang dulu bahkan terkadang harus mencuri kentang dan jagung, kini mulai mencuri perhatian dunia.

Diomande dahulu bermimpi menjadi Cristiano Ronaldo, dengan menggambar sendiri nama dan nomor punggung sang idola di jersey palsu. Kini tengah menapaki jalan yang sama dengan CR7.

Tapi bagi Diomande ini semua sebenarnya tak terlalu berarti. Kegemilangan yang ia tunjukkan dan gelimang yang menantinya berkurang maknanya, jikalau tak bisa disebut hilang, sejak adiknya meninggal di usia 15 tahun.

Roxanne meninggal tak lama setelah debut Diomande debut bersama Leganes. Kematian itu memukul Diomande begitu telak dan tak peduli lagi soal mobil-mobil dan rumah besar yang dulu ia impikan.

Diomande merasa hal-hal itu terlalu remeh dan baginya kini sepakbola hanyalah alat untuk membuktikan, bahwa keyakinan mendiang adiknya benar. Keyakinan bahwa ia lebih baik dari Kylian Mbappe bahkan Cristiano Ronaldo.