Pertandingan Chelsea Vs AC Milan sukses mencuri perhatian publik sepakbola nasional. Tiket laga itu sudah laku terjual 50 persen dari yang tersedia.

Chelsea dan Milan akan bertanding di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, pada 8 Agustus mendatang. Laga itu akan menjadi momen kembalinya klub besar dunia bertanding di Jakarta.

Setelah bertahun-tahun Indonesia luput dari agenda pramusim klub Eropa, akhirnya kedatangan klub besar lagi. Hal ini pun mendapat sambutan luar biasa dari para pecinta sepakbola.

"Sejauh ini tiket sudah terjual 50 persen lebih. Itu jujur dari pengalaman kami merupakan sebuah rekor juga untuk event yang start-nya lumayan panjang. Biasanya lebih lakunya lebih di akhir-akhir, cuman dari awal kami buka ini antusiasmenya juga amat sangat tinggi," kata CEO Ninesport Arief Wicaksono di ruang media SUGBK, Selasa (28/7/2026).

"Walaupun pada saat awal-awal bisa kita tahu bintang-bintang yang datang itu belum terlalu jelas. Namun sekarang kita sudah tahu ada Ballon d'Or (2018) Luka Modric datang, ada Joao Pedro datang, ada Cole Palmer datang dan banyak pemain-pemain baru juga yang datang," ujarnya menambahkan.

Kehadiran Chelsea dan Milan ini menjadi momentum bagi Ninesport untuk kembali mendapat kepercayaan klub Eropa. Indonesia harus membuktikan bisa menjadi tuan rumah bagi klub top agar mendapatkan pengalaman menyenangkan sehingga menjadi magnet bagi klub top lainnya.

Selama absennya klub Eropa ke Indonesia, Thailand dan Singapura yang menjadi panggung di regional Asia Tenggara. Ironisnya, banyak penggemar sepakbola Indonesia yang meramaikan hajatan kedatangan klub Eropa di negara tetangga.

"Jadi by data hampir semua event di Singapura itu mayoritas pengunjungnya tuh dari Indonesia. Enggak tahu kenapa kita agak miss di situ, kita membiarkan banyak duit melayang," ucap Arief.

"Cuman kalau pertanyaannya sekarang buat di sini, nggak tahu kenapa juga kalau event-nya di luar, kita tuh biasa lebih tertib atau lebih mau beli dari jauh-jauh hari. Cuman kalau event-nya di Indonesia, kita nggak tahu kenapa lebih terbiasa menjadi orang Indonesia saja," tuturnya.