Menurut analisis dan laporan dari L'Équipe, situasi pemilihan presiden FIFA 2027 semakin rumit. Qatar dan Presiden PSG Nasser Al-Khelaifi terjebak dalam dilema yang pelik: di satu sisi, mereka perlu menjaga hubungan baik dengan Presiden UEFA Aleksander Ceferin, sementara di sisi lain, mereka harus tetap setia kepada Presiden FIFA saat ini Gianni Infantino.

Nasser, yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Klub Eropa (ECA), memiliki pengaruh yang cukup besar dalam sepak bola Eropa dan pernah dianggap oleh banyak pihak sebagai kandidat potensial untuk Presiden FIFA, tetapi ia secara terbuka menyangkal niat untuk mencalonkan diri.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa Qatar adalah pendukung signifikan Infantino, dan kedua belah pihak membangun kerja sama yang mendalam selama Piala Dunia Qatar 2022. Namun, pada saat yang sama, Nasser, dalam sistem klub Eropa, harus menjaga kerja sama dengan UEFA yang dipimpin oleh Ceferin. Ketika konflik antara Infantino dan Ceferin menjadi publik dan hubungan mereka benar-benar putus setelah rencana privatisasi komersial Piala Dunia, pilihan sikap Qatar dan Nasser menjadi sangat sulit.
Jika mereka terus mendukung Infantino dengan teguh, hal itu dapat merusak kerja sama mereka dengan UEFA. Namun, jika mereka berpihak ke kubu Ceferin, itu akan mengkhianati aliansi yang dibangun dengan Infantino. L'Équipe percaya bahwa dalam periode mendatang, Nasser dan Asosiasi Sepak Bola Qatar perlu menyeimbangkan posisi mereka dengan hati-hati di antara kedua kubu.
Pemilihan presiden FIFA akan diadakan pada Maret 2027. Infantino saat ini adalah kandidat utama, tetapi ia telah menghadapi oposisi terbuka dari beberapa asosiasi sepak bola Eropa, dan hasil pemilihan di masa depan penuh dengan ketidakpastian.
Diterjemahkan oleh AI.
Situs web AF kini hadir! Lihat berita lengkap, komentar, detail pertandingan, dan statistik di komputer Anda. Kunjungi: www.allfootballapp.com
ပီအက်စ်ဂျီ
ကာတာ
Gianni Infantino
နာဆာ
Aleksander Ceferin
မှတ်ချက် အားလုံး